Dari Pengabdian, Tumbuh Harapan untuk Wawowae yang Maju, Sejahtera, dan Bermartabat
WAWOWAE — Perubahan sebuah desa tidak selalu dimulai dari janji-janji besar. Terkadang, perubahan justru berawal dari kesediaan seorang pemimpin untuk duduk bersama masyarakat, mendengarkan keluh kesah mereka, memahami kebutuhan mereka, dan menjadikan suara rakyat sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Bagi Anselmus Fiani, prinsip inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun Desa Wawowae menuju masa depan yang lebih baik.
Sejak menetap di Kampung Bolijo, Desa Wawowae, pada tahun 2013, Anselmus Fiani telah melewati perjalanan panjang dalam memahami kehidupan masyarakat, dinamika pemerintahan desa, serta berbagai harapan yang tumbuh di tengah warga. Pengalaman tersebut bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan ruang pembelajaran yang membentuk pandangannya tentang arti kepemimpinan dan pengabdian.
Bagi pria yang akrab disapa Ansel ini, menjadi pemimpin bukan hanya tentang menduduki jabatan, melainkan tentang kesediaan memikul tanggung jawab, menjaga kepercayaan, dan bekerja bersama masyarakat untuk mewujudkan perubahan yang nyata.
Kini, menjelang pergantian kepemimpinan Desa Wawowae, Ansel merasa terpanggil untuk mengambil bagian lebih besar dalam perjalanan pembangunan desa. Ia ingin mendedikasikan diri sebagai pelayan masyarakat, dengan membawa semangat kebersamaan dan tekad untuk membangun Wawowae ke arah yang lebih maju.
Pengalaman Adalah Bekal, Pengabdian Adalah Panggilan
Keinginan Ansel untuk mengabdi bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia memiliki pengalaman dalam menjalankan tugas pemerintahan desa. Selama tujuh tahun, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Urusan Umum (Kaur Umum). Setelah itu, kepercayaan kembali diberikan kepadanya untuk menjalankan tugas sebagai Sekretaris Desa selama satu tahun.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dekat mekanisme administrasi pemerintahan, memahami tanggung jawab pelayanan publik, serta melihat secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dari perjalanan itu, Ansel menyadari bahwa pemerintahan desa yang baik tidak cukup hanya mengandalkan administrasi dan program kerja. Pemerintahan juga membutuhkan kepekaan, keterbukaan, dan keberanian untuk mendengarkan suara masyarakat, termasuk suara mereka yang selama ini mungkin belum mendapatkan ruang yang cukup.
Ia memahami bahwa setiap keluarga memiliki kebutuhan dan pergumulan yang berbeda. Ada petani yang berharap hasil kebunnya semakin baik, ada peternak yang ingin mengembangkan usahanya, dan ada keluarga yang mendambakan kehidupan yang lebih sejahtera bagi anak-anak mereka.
Semua harapan itu perlu didengar dan dipertimbangkan dalam proses pembangunan desa.
Karena itu, Ansel memandang kepemimpinan sebagai sebuah amanah yang harus dijalankan dengan hati nurani. Seorang pemimpin, menurut semangat yang dipegangnya, harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya ketika membutuhkan dukungan, tetapi juga ketika rakyat membutuhkan perhatian dan solusi.
Kepemimpinan yang Mendengar, Pembangunan yang Menjawab Kebutuhan Rakyat
Dalam refleksi panjang bersama sahabat, kerabat, dan keluarga, Ansel merumuskan sebuah keyakinan bahwa perubahan desa harus bertolak dari kebutuhan nyata masyarakat.
Baginya, masyarakat bukan sekadar penerima hasil pembangunan. Masyarakat adalah bagian penting dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan itu sendiri.
Itulah sebabnya, semangat yang dibawanya dirangkum dalam sebuah gagasan sederhana, tetapi sarat makna:
“Bersama Membangun Desa ke Perubahan yang Lebih Baik.”
Kalimat ini bukan hanya sebuah slogan, melainkan gambaran tentang arah kepemimpinan yang ingin diperjuangkannya. Kata bersama menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, kaum muda, perempuan, petani, peternak, dan seluruh lapisan masyarakat perlu berjalan dalam semangat yang sama.
Sementara itu, perubahan yang lebih baik harus dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, melalui pelayanan pemerintahan yang semakin baik, pengembangan potensi ekonomi lokal, dan terbukanya kesempatan bagi warga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Ansel percaya, ketika seorang pemimpin bersedia mendengarkan rakyat, keputusan yang diambil akan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, program pembangunan dapat direncanakan secara lebih tepat sasaran, dilaksanakan dengan semangat kebersamaan, dan dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Kopi dan Peternakan: Potensi Lokal untuk Masa Depan Wawowae
Salah satu perhatian Ansel dalam gagasan pembangunan Desa Wawowae adalah pengembangan sektor pertanian dan peternakan. Ia melihat bahwa desa memiliki potensi yang perlu dikelola secara serius agar dapat menjadi sumber penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Sektor pertanian, khususnya pengembangan kopi, menjadi salah satu prioritas yang ingin diperjuangkannya. Menurut Ansel, potensi lahan pertanian Wawowae perlu mendapat perhatian melalui upaya menjaga dan mengembangkan varietas kopi unggul, disertai pengelolaan yang baik agar memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Dalam perbincangan bersama media, Ansel menegaskan keseriusannya terhadap komoditas tersebut.
“Untuk kopi, kami tidak main-main,” ungkapnya.
Pernyataan itu mencerminkan pandangannya bahwa kopi tidak semestinya hanya dipandang sebagai hasil kebun biasa. Dengan perhatian yang tepat, pengembangan kualitas tanaman, pendampingan petani, dan pengelolaan hasil yang baik, kopi berpotensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat desa.
Namun, Ansel tidak ingin pembangunan ekonomi hanya bertumpu pada satu sektor. Peternakan juga menjadi bagian penting dari arah pembangunan yang ingin didorongnya.
Menurutnya, pertanian dan peternakan dapat menjadi dua sektor yang saling mendukung dalam memperkuat ekonomi keluarga. Ketika kedua sektor tersebut berkembang, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan, memperkuat ketahanan ekonomi, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Tentu, cita-cita tersebut membutuhkan perencanaan yang matang, keterlibatan masyarakat, serta pengelolaan sumber daya desa yang bertanggung jawab. Bagi Ansel, potensi yang dimiliki Wawowae harus menjadi modal bersama untuk menciptakan kemajuan yang dapat dirasakan oleh warga.
Desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki potensi, melainkan desa yang mampu mengelola potensinya demi kesejahteraan masyarakat.
Pemerintahan Bersih, Jujur, dan Transparan
Ansel memahami bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan pembenahan tata kelola pemerintahan. Sebab, kepercayaan masyarakat merupakan modal penting dalam menjalankan pemerintahan desa.
Tanpa keterbukaan, masyarakat akan sulit mengetahui bagaimana keputusan dibuat dan bagaimana program pembangunan dilaksanakan. Tanpa kejujuran, kepercayaan dapat melemah. Dan tanpa partisipasi, pembangunan berisiko menjauh dari kebutuhan warga.
Karena itu, Ansel membawa visi:
“Terwujudnya masyarakat Wawowae yang maju, sejahtera, inovatif melalui tata kelola pemerintah yang bersih, jujur dan transparan dengan menjunjung tinggi nilai adat istiadat dan budaya warisan leluhur.”
Visi tersebut lahir dari proses refleksi dan diskusi panjang bersama orang-orang terdekat yang turut memikirkan masa depan desa. Di dalamnya terkandung harapan agar kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas pelayanan, kejujuran dalam menjalankan amanah, keterbukaan terhadap masyarakat, serta terpeliharanya nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Bagi Ansel, adat istiadat dan budaya bukan penghalang kemajuan. Sebaliknya, nilai-nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat merupakan kekuatan yang dapat menyatukan warga, menjaga persaudaraan, dan menjadi landasan dalam menyelesaikan persoalan secara bermartabat.
Kemajuan yang dicita-citakannya adalah kemajuan yang tidak membuat masyarakat kehilangan jati diri, melainkan kemajuan yang tumbuh dari akar budaya sendiri.
Pengabdian yang Tumbuh dari Kehidupan Bermasyarakat
Di luar tugas pemerintahan, Ansel juga dipercaya menjalankan tanggung jawab dalam kehidupan rohani masyarakat. Ia pernah dipercaya sebagai ketua lingkungan dan menjadi bagian dari Dewan Bidang Keuangan Paroki Gereja Santo Longginus.
Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya di tengah masyarakat. Berbagai tanggung jawab yang pernah dijalankan mempertemukannya dengan banyak orang, memperluas pengalaman kebersamaan, dan mengajarkannya bahwa setiap amanah membutuhkan tanggung jawab serta komitmen.
Dalam kehidupan bermasyarakat, pembangunan tidak hanya membutuhkan kecakapan teknis, tetapi juga kemampuan merawat hubungan antarsesama. Persatuan, rasa saling menghormati, dan semangat gotong royong merupakan kekuatan yang perlu terus dijaga.
Ansel ingin semangat tersebut tetap hidup di Wawowae. Perbedaan pandangan hendaknya tidak menjadi alasan untuk terpecah, melainkan kesempatan untuk saling mendengarkan dan menemukan jalan terbaik demi kepentingan bersama.
Sebab, siapa pun yang kelak memimpin desa, masyarakat tetaplah keluarga besar yang memiliki tujuan yang sama: kehidupan yang lebih baik bagi seluruh warga.
Saatnya Menyatukan Harapan untuk Wawowae
Menjelang pergantian kepemimpinan Desa Wawowae, Anselmus Fiani hadir dengan pengalaman pengabdian, refleksi tentang kepemimpinan, dan gagasan untuk mengembangkan potensi lokal.
Ia menyadari bahwa membangun desa bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Perubahan membutuhkan proses, kerja sama, kesabaran, dan kesungguhan untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Karena itu, cita-cita yang dibawanya tidak seharusnya berhenti sebagai kata-kata. Ia perlu diterjemahkan menjadi program yang terencana, melibatkan masyarakat, dan dapat dipertanggungjawabkan pelaksanaannya.
Bagi masyarakat Wawowae, masa depan desa adalah tanggung jawab bersama. Setiap suara, gagasan, dan partisipasi warga memiliki arti dalam menentukan arah pembangunan. Pilihan terhadap pemimpin pun menjadi bagian penting dari ikhtiar bersama untuk mewujudkan pemerintahan yang semakin baik.
Ansel berharap mendapat doa dan dukungan masyarakat agar niat pengabdian yang sedang diperjuangkannya dapat berjalan sesuai harapan. Ia menyerahkan setiap langkah dan rencana kepada Tuhan, sembari menaruh harapan pada kekuatan kebersamaan masyarakat Wawowae.
“Semoga Tuhan merestui niat dan kerja baik yang selama ini dan akan dibuat nanti. Amin,” demikian harapannya.
Pada akhirnya, perubahan yang lebih baik tidak lahir hanya karena seseorang ingin memimpin. Perubahan tumbuh ketika ada kemauan untuk mendengar, keberanian untuk bertanggung jawab, dan kesediaan untuk bekerja bersama rakyat.
Bersama Membangun Desa ke Perubahan yang Lebih Baik.
Itulah semangat yang ingin dibawa Anselmus Fiani untuk Wawowae: sebuah desa yang maju tanpa meninggalkan budaya, sejahtera melalui penguatan potensi lokal, dan bermartabat melalui pemerintahan yang bersih, jujur, serta transparan.
Sebab, masa depan Wawowae bukan hanya tentang siapa yang memimpin, melainkan tentang bagaimana kepemimpinan itu mampu menggerakkan seluruh masyarakat untuk melangkah bersama menuju kehidupan yang lebih baik.




