Dari Tanah Kelahiran, Merantau, Menimba Pengalaman, Lalu Pulang Membawa Harapan
Oleh: Rofi. L.B
Ada tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan, meski kaki telah melangkah jauh. Tempat itu adalah tanah kelahiran. Bagi Ignasius Leko, S.H., yang akrab disapa Karlos, Aimere bukan sekadar sebuah tempat di mana ia dilahirkan. Aimere adalah bagian dari perjalanan hidupnya—tempat ia mengenal keluarga, pendidikan, kerja keras, kebersamaan, dan nilai-nilai pengabdian.
Karlos lahir di Aimere, 24 Februari 1975. Ia tumbuh sebagai anak seorang pendidik. Ayahnya adalah seorang guru sekolah dasar yang mengabdikan diri di berbagai sekolah di Kabupaten Ngada.
Sejak kecil, ia melihat dari dekat bagaimana seorang guru menjalani pengabdian. Tidak selalu tentang kemudahan, tetapi tentang kesediaan untuk hadir, mendidik, dan memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain. Barangkali dari sanalah benih pengabdian itu tumbuh.
Pergi untuk Belajar Kehidupan
Seperti banyak anak muda lainnya, Karlos kemudian meninggalkan tanah kelahirannya. Ia pernah menjalani kehidupan di Jakarta selama kurang lebih tujuh tahun. Jakarta memberinya pengalaman yang berbeda. Jauh dari kampung halaman, ia belajar menghadapi kehidupan dengan segala tantangan dan tuntutannya. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, ia semakin memahami bahwa setiap perjalanan memiliki pelajaran tersendiri.
Namun, perjalanan hidupnya tidak berhenti di Jakarta. Karlos melanjutkan pendidikan dan kemudian menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum (S.H.) di Universitas Wisnuwardhana Malang. Ilmu hukum menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan hidupnya. Ia belajar mengenai aturan, hak dan kewajiban, kelembagaan, serta bagaimana kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan memiliki tata aturan yang harus dihormati.
Ketika Ilmu Bertemu Masyarakat
Setelah melalui perjalanan pendidikan dan pengalaman hidup, Karlos kemudian terlibat dalam pekerjaan yang semakin mendekatkannya dengan masyarakat desa. Ia pernah menjadi Pendamping Lokal Program Pemberdayaan Mandiri Perdesaan. Di sana, ia tidak hanya berhadapan dengan dokumen atau program. Ia bertemu dengan manusia dan kehidupan nyata masyarakat.
Ada masyarakat yang memiliki potensi tetapi membutuhkan pendampingan. Ada kelompok yang ingin berkembang tetapi membutuhkan akses dan kesempatan. Ada pula berbagai persoalan desa yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan teori. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Karlos memahami bahwa pembangunan pada akhirnya harus kembali kepada masyarakat.
Pulang Bukan Karena Perjalanan Telah Selesai
Kini, setelah melewati perjalanan panjang, Karlos kembali menatap tanah kelahirannya. Kepulangan itu bukan sekadar tentang tempat tinggal. Ada pengalaman yang dibawa pulang. Ada ilmu yang diperoleh dari pendidikan. Ada pelajaran yang lahir dari perjalanan di Jakarta. Ada pengalaman pemberdayaan masyarakat. Dan ada kerinduan untuk melihat tanah kelahiran tumbuh dengan kekuatan yang dimilikinya sendiri. Aimere Timur memiliki tanah, masyarakat, budaya, dan potensi lokal. Potensi itu menjadi dasar bagi Karlos dalam merumuskan visi:
“Terwujudnya Desa Aimere Timur yang maju dan berbudaya, menuju kemandirian pangan lokal.”
Visi tersebut menempatkan kemajuan dan budaya sebagai dua hal yang berjalan bersama. Desa yang maju bukan berarti harus kehilangan jati dirinya. Sebaliknya, kemajuan dapat dibangun dari kekuatan yang telah dimiliki masyarakat: tanah, pangan, budaya, pengetahuan, gotong royong, dan sumber daya manusia.
Kemandirian Pangan, Kekuatan dari Tanah Sendiri
Salah satu gagasan yang menjadi bagian dari visi Karlos adalah kemandirian pangan lokal. Bagi masyarakat desa, pangan bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Pangan berkaitan dengan tanah, petani, keluarga, tradisi, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Karena itu, potensi pangan lokal dapat menjadi salah satu kekuatan pembangunan desa.
Penguatan sektor pertanian, pemberdayaan masyarakat, pengembangan kelompok-kelompok produktif, peningkatan peran pemuda, serta pemanfaatan potensi ekonomi lokal merupakan bagian dari ruang yang dapat dikembangkan dalam mewujudkan kemandirian desa.
Maju Tanpa Kehilangan Akar
Di tengah perubahan zaman, desa menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Generasi muda membutuhkan ruang untuk berkembang. Potensi ekonomi membutuhkan pengelolaan. Budaya membutuhkan perhatian agar tetap hidup di tengah perubahan. Dan pemerintahan desa membutuhkan tata kelola yang mampu melibatkan masyarakat. Karena itu, gagasan tentang desa yang maju dan berbudaya menjadi bagian penting dalam visi Karlos. Kemajuan bukan hanya tentang jalan, bangunan, atau fasilitas. Kemajuan juga tentang manusia yang berdaya, masyarakat yang terlibat, budaya yang tetap hidup, serta potensi lokal yang mampu memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
Kembali ke Rumah
Perjalanan seseorang pada akhirnya selalu memiliki titik untuk kembali. Bagi Karlos, titik itu adalah Aimere Timur. Tempat di mana perjalanan hidup bermula. Tempat di mana kenangan masa kecil tersimpan. Tempat di mana nilai-nilai pengabdian pertama kali dikenalnya melalui sosok sang ayah, seorang guru yang mengabdikan diri di berbagai sekolah di Kabupaten Ngada.
Kini, seorang anak Aimere yang pernah merantau, menempuh pendidikan, bekerja, dan memperoleh pengalaman di luar daerah itu kembali melihat kampung halamannya dengan perspektif yang lebih luas. Bukan karena ia telah selesai belajar. Justru karena perjalanan panjang telah memberinya kesempatan untuk terus belajar.
Kembali bukan berarti mundur. Kembali adalah membawa pulang apa yang telah dipelajari.
Dan bagi Ignasius Leko, S.H., perjalanan pulang itu kini memiliki satu makna: KEMBALI UNTUK MENGABDI.
Ignasius Leko, S.H. (Karlos)
Aimere, 24 Februari 1975
Sarjana Hukum – Universitas Wisnuwardhana Malang
Pengalaman ±7 tahun di Jakarta
Pendamping Lokal Program Pemberdayaan Mandiri Perdesaan
“Terwujudnya Desa Aimere Timur yang maju dan berbudaya, menuju kemandirian pangan lokal.”
