“Kita tidak pernah tahu mau
jadi apa.”
Inerie,mediaflores.net -Sepenggal kalimat terucap dari
bibir tokoh muda Inerie yang saat ini kembali mengabdikan diri secara total untuk
masyarakat Desa Kelitey.
Ada masa ketika seseorang hanya
bisa menjalani hidup tanpa pernah tahu akan berakhir di mana. Ada perjalanan
yang dimulai dari jalanan, dari kendaraan yang berpindah dari satu tempat ke
tempat lain, dari pekerjaan sederhana yang mungkin tidak pernah dibayangkan
akan menjadi bagian dari sebuah kisah pengabdian.
Begitulah perjalanan Ignasius
Wali, putra Kelitey yang lahir pada 7 Maret 1979. Jauh sebelum
dipercaya memimpin Desa Kelitey, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, ia pernah
menjalani kehidupan sebagai kondektur bus Karya Harapan Taksi jurusan
Mauponggo–Ende. Ia juga pernah menjadi kondektur bus kayu Cinta Manis
jurusan Aimere–Bajawa sekitar tahun 2000-an.
Di atas bus, ia bertemu banyak
orang. Mendengar berbagai cerita. Melihat kehidupan dari dekat. Mungkin ketika
itu tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa pengalaman tersebut kelak
akan membawanya pada sebuah perjalanan yang jauh lebih besar: mengabdi dan
memimpin masyarakat di tanah sendiri.
“Kita tidak pernah tahu mau
jadi apa.”
Kalimat itu sederhana, tetapi
menggambarkan perjalanan hidup Ignasius Wali. Sebab hidup memang tidak selalu
memberikan peta jalan yang jelas. Namun setiap pengalaman, setiap pekerjaan,
setiap perjumpaan dengan manusia, perlahan membentuk seseorang menjadi dirinya
hari ini.
Ketika Pengalaman Menjadi
Bekal Pengabdian
Ignasius Wali bukanlah sosok yang
tiba-tiba hadir dalam kehidupan masyarakat Kelitey. Jauh sebelum menjadi kepala
desa, ia telah lama terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan dan
pelayanan. Ia pernah menjadi Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa Kelitey.
Di lingkungan Gereja, dalam
urusan rohani, ia dipercaya sebagai Ketua Kelompok Umat Basis selama tiga tahun.
Ia juga pernah menjadi Ketua Lingkungan selama enam tahun, menjalankan tugas seksi
Paskel Paroki Ruto selama tiga tahun.
Di bidang pemerintahan desa, pengalamannya juga panjang. Ia pernah menjadi Sekretaris BPD Desa Kelitey selama lima tahun, kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua BPD selama empat tahun. Sembilan tahun berada di BPD membuatnya semakin dekat dengan persoalan dan kebutuhan masyarakat. Sebelum akhirnya, pada tahun 2019, masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin Desa Kelitey.
Ketika mulai memimpin pada 2019,
Desa Kelitey dihuni sekitar 135 kepala keluarga. Kini jumlah tersebut
berkembang menjadi sekitar 176 kepala keluarga. Pertumbuhan masyarakat tentu
membawa tantangan baru. Kebutuhan semakin banyak. Harapan masyarakat semakin
besar. Pemerintah desa dituntut untuk semakin kreatif mencari solusi.
Di tengah kondisi itulah Ignasius
Wali berusaha mendorong berbagai inovasi. Baginya, desa tidak boleh hanya
menunggu bantuan. Desa harus mampu melihat apa yang dimilikinya dan mengubah
potensi tersebut menjadi kekuatan.
Tenda dan Kursi: Inovasi
Sederhana yang Menghasilkan
Salah satu gagasan yang
dikembangkan adalah pengadaan tenda dan kursi desa untuk disewakan kepada
masyarakat. Bagi sebagian orang, mungkin ini terlihat sederhana. Tetapi dari
sesuatu yang sederhana tersebut, lahirlah sumber pendapatan bagi desa. Usaha
penyewaan tenda dan kursi mampu memberikan pendapatan sekitar Rp30–40 juta
setiap tahun.
Kemudian pengelolaan potensi desa
diperkuat melalui BUMDes.
Kerja sama antara kepala desa,
aparat pemerintahan desa, pengelola BUMDes dan masyarakat menjadi kekuatan
penting dalam meningkatkan pendapatan desa. Hasilnya, PAD Desa Kelitey kini
telah mencapai sekitar Rp87 juta. Angka tersebut menjadi gambaran bahwa ketika
pemerintah desa dan masyarakat berjalan bersama, potensi kecil pun dapat
berubah menjadi kekuatan besar.
Membangun dari Pekarangan Rumah
Bagi Ignasius Wali, pembangunan
tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar. Kadang, pembangunan dapat
dimulai dari halaman rumah sendiri. Masyarakat didorong memanfaatkan pekarangan dengan
menanam sayur, cabai, dan pepaya.
Gerakan itu sederhana, tetapi memiliki tujuan besar: mendorong masyarakat agar semakin mampu memenuhi kebutuhan pangan dari lingkungan sendiri. Apalagi saat ini kebutuhan pangan semakin mendapat perhatian seiring dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah. Potensi pangan lokal dapat menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Dari pekarangan rumah, sebuah keluarga bisa mulai belajar mandiri. Dari keluarga, kemandirian itu dapat berkembang menjadi kekuatan desa.
Ubi yang Menjaga Pangan dan
Tradisi
Kelitey juga memiliki potensi
yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi memiliki makna budaya. Salah satunya
adalah ubi. Bagi masyarakat Ngada, ubi tidak sekadar makanan. Ubi memiliki
tempat dalam kehidupan adat.
Setiap tahun, beberapa kampung di
sekitar Kelitey membutuhkan ubi untuk berbagai kegiatan ritual adat, termasuk Reba;
Tahun Baru Adat Ngada. Karena itu, pengembangan ubi berarti menjaga dua hal
sekaligus: ketahanan pangan dan warisan budaya.
Ketika masyarakat menanam ubi,
mereka bukan hanya sedang mempersiapkan kebutuhan hari ini. Mereka juga sedang
menjaga sesuatu yang diwariskan oleh para leluhur untuk generasi berikutnya.
Kelapa untuk Masa Depan Kelitey
Potensi lain yang mulai dilirik
adalah budidaya kelapa. Kelapa dipandang memiliki banyak manfaat. Buahnya dapat
dimanfaatkan. Daunnya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Batangnya juga
memiliki nilai guna” ungkap Ignas mengenang sosok Tokoh Adat, Bapak Agus Gaju,
motivator ilmu memanam pohon.
Karena itu, pengembangan kelapa
menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan untuk memperkuat ekonomi
masyarakat Kelitey. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa harus
berpijak pada potensi lokal. Apa yang tumbuh di tanah Kelitey harus mampu
memberikan manfaat bagi masyarakat Kelitey.
Pemimpin Harus Mendengar
Selama memimpin, banyak persoalan
yang dihadapi. Menjadi kepala desa bukan hanya soal membangun dan mengelola
anggaran. Ada persoalan sosial yang harus diselesaikan. Ada masyarakat yang
berselisih. Ada kepentingan yang berhadapan.
Dalam situasi seperti itu,
seorang pemimpin dituntut untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ignasius
Wali memilih menjadi penengah. Ia berusaha mendengar kedua belah pihak secara
adil. Baginya, persoalan harus dilihat secara jernih dan keputusan tidak boleh
dipengaruhi kepentingan pribadi.
“Dalam menyelesaikan masalah,
saya harus menjadi penengah, mendengar secara adil dari kedua pihak yang
bersengketa. Tidak boleh ada kepentingan pribadi pemimpin didalamnya.” Jelas Ignas
sosok yang sangat dirindukan untuk terus memimpin ini.
Prinsip tersebut menjadi bagian
dari cara Ignasius Wali menjalankan amanah kepemimpinannya. Sebab baginya,
menjaga persatuan masyarakat sama pentingnya dengan membangun infrastruktur.
Pengabdian yang Tidak Berawal
dari Kursi Kekuasaan
Jika melihat perjalanan hidupnya,
pengabdian Ignasius Wali sebenarnya telah dimulai jauh sebelum menjadi kepala
desa. Ia pernah menjadi kondektur. Ia pernah menjadi kader pemberdayaan
masyarakat. Ia pernah menjadi bagian dari BPD. Ia melayani masyarakat melalui
lingkungan dan kehidupan menggereja.
Ia menjalankan tugas-tugas sosial
dan rohani. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk
dirinya. Maka ketika akhirnya dipercaya menjadi kepala desa, ia tidak datang
tanpa pengalaman. Ia datang membawa perjalanan hidup.
Membawa pengalaman bertemu
masyarakat. Membawa pengalaman mendengar persoalan. Membawa pengalaman bekerja
bersama orang lain. Dan membawa keyakinan bahwa desa hanya dapat maju jika
masyarakat menjadi bagian dari prosesnya.
Kelitey Bukan Milik Seorang
Pemimpin
Bagi Ignasius Wali, Kelitey bukan
milik seorang kepala desa. Kelitey adalah milik masyarakat. Karena itu,
pembangunan tidak boleh hanya menjadi pekerjaan pemerintah desa. Pembangunan
harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah desa memiliki tanggung jawab. Aparat
desa memiliki peran. BUMDes memiliki ruang untuk bergerak. Dan masyarakat
memiliki kekuatan terbesar. Semua harus berjalan bersama. Itulah semangat yang
ingin terus dibawa: “Bersama Masyarakat Membangun Desa Tercinta Kelitey.” Sebuah
kalimat yang bukan sekadar slogan. Tetapi sebuah harapan agar pembangunan tetap
menempatkan masyarakat sebagai bagian utama.
Menatap Kelitey yang Lebih Baik
Kini, setelah masa jabatan
sebagai kepala desa berakhir, Ignasius Wali kembali mencalonkan diri sebagai
Kepala Desa Kelitey. Perjalanan berikutnya tentu akan ditentukan oleh
masyarakat melalui proses pemilihan yang berlaku. Namun satu hal yang menjadi
harapannya adalah terus melihat Kelitey bergerak maju.
“Kita tidak bisa membangun desa
seorang diri. Kelitey harus dibangun bersama masyarakat demi Desa yang lebih
baik dan maju” Ungkap Ignas mengakhiri ngobrol santai bersama Tim Media Flores//
MF// AG//



.jpeg)